Guestbook

Sumonggo nyangkem…..

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 8.4/10 (5 votes cast)
Guestbook, 8.4 out of 10 based on 5 ratings

43 Responses to “Guestbook”

  • Febi:

    Kapan neh manggung lagi? Dikabari dunk pak biar kita bisa lihat…
    Sukses terus yah buat para aktor cangkem…!!

  • raras:

    akhirnya saya bisa buka website ini dan ada nama saya ahahahaha…..

    sukses selalu,,untuk keluarga cangkem dan cucu2nya,,semangat terus om pardiman!
    btw saya pgn punya video yang waktu di salihara,,dr dl mw ngopi ga jadi2…>.<

  • fredy:

    terima kasih mb feby…anak-anak Sragam ABG besuk main di penutupan Binale anak di TBY… jam 15.00 sampai jam 18.00. buat mbak raras… bisa mbak…datang aja diomah cangkem.ada latihan routine setiap selasa…. salam dlang tak tak gong

  • arya dani:

    pak pardiman untuk tanggal 1 februari ga bisa ikut,, salam buat kawan-kawan saja, sukses selalu,, gemparkan alun-alun utara.. wokey!!!!

  • dhiyan:

    kapan mau pentas acapella mataraman lagi om… dah kangen pertunjukan yg luar biasa lagi..

  • jason:

    acapela tuw apa sieh,,,,

    • fredy:

      txs… untuk jason acapella.. itu musik yang mengekplorasi dan memaksimalkan mulut sebagai media untuk bermusik.lebih lengkap buka di profile acapella mataraman.

  • hera:

    om acapella pentas lagi kapan ya…

  • mala:

    acapella mataraman emang keren gila….kapan perform lagi???

  • mala:

    acapella mataraman emang keren gila….kapan perform lagi???makasih

  • daniel:

    Tabik Mas Pardiman
    Wah jebule ada website-nya to.
    Kapan manggung di semarang lagi?
    Maaf waktu saya dikabari manggung di Yk, saya kebetulan gak bisa datang. Jangan kapok kasih kabar ya….

  • acapella:

    matur nuwun pada temen-temen pers dan sedulur kabeh yang kemarin 2 mei 2010 hadir memberi suport acara kami di gramedia …jl sudirman Yogyakarta

  • bakri:

    saya salut dengan kepedulian acapella mataraman tentang penyambutan hari pendidikan dan kepedulian tentang mundurnya pendidikan yang ada di indonesia. saya tunggu kejutan kejutan lainya untuk mencerdaskan anak bangsa… thank you…

  • acapella:

    maturnuwun mas bakrie…. atas apresiasinya.. membuat kami semakin bersemangat untuk terus berkarya.

  • Mantap om aku wingi ndelok ning pasar kangen jogja.
    Oh yo om, eneng albume ra ki?

  • acapella:

    matur nuwun mas… ana mas… bisa di dapatkan lags ke omah cangkem atau hub. 081328517799 harganay 50.000

  • vera:

    sukses..kemarin di jawa pos, dan proficiat untuk pementasan sang maestro pak besut..potret tragedi tapi di tangan acapella tetep seger…dan inspiratif… di tunggu karya berikutnnya…

  • Sukses mas Pardiman…
    Trus berkembang Acapella-nya…..
    Salam….

    • acapella:

      matur nuwun mas sudiharto…. kita baru menyiapkan acapella sma de brito bsk 28 agst…di conserhall taman budaya…

  • acapella:

    25 sepetember sabtu malam minggu… jam 20.00 acapella mataraman show di sositet militer taman budaya Yogyakarta

  • emprit_sett_panggung:

    andai suatu ketika kami ngesett buat acapella mataraman……

  • dani:

    acapella siap perfom tanggal 6 januari 2011 in kepatihan dalam rangka natalan.. mongo sami menyaksikan,,

  • kartijoss28:

    Kulonuwun…
    Walah Mas dan mBak…
    Kebangeten tenan kok saya ini, mosok sebagai orang Jogja udah mataun-taun kok baru tau sekarang kalo ada apresiasi seni yang mbedani koyo gini…
    Pokoke salut kagem panjenengan2 semua…
    Kapan2 kalo mau manggung tolong dikabari ya..

    Semoga tetap betah mencangkemkan diri guna menghibur dan mewakili cangkem2 yang lain…

    Nuwun

  • Acapella:

    matur nuwun….
    sampun di karuhke kita baru persiapan opera acapella the born of wisanggeni, maturnuwun panyengkuyungipun.
    mungkin saget nuuwun email ato yang bisa dihubungi. kalau ada info bisa kita caosi kabar
    salam budaya.

    • kartijoss28:

      Maturnuwun tanggapanipun.
      Ini e-mail saya: kartijoss28@gmail.com. Mbok inggih, kula dipun kabari, sukur2 mangke konco2 sanes bisa ikut support.

      Semoga persiapan opera acapella the born of Wisanggeni lancar, nir ing sambekala. Amien

  • acapella:

    maturnuwun ugi kentunan emailipun…
    enggih pancen kita betah suport dari beberapa fihak untuk keberlangsungan musik gaya cangkem … nyuwun pengestu kagem para penggemar mitra pitepangan lan sedulur-sedulur Jogja ingkang kenal lan tepang 24-25 mei badhe nyangkem
    dateng Singapore….mugi sukses lan damel aruming Ngayogyakarta lan Indonesia..

  • surya:

    mak…maen di singapure???keren…
    bisa nonton ndak ya??^_^

  • Acapella:

    terima kasih sahabat Yogya, teman2 pers, ..matur nuwun sih katresnanipun telah meluangkan waktu untuk mengapresiasi acapella mataraman, kami banyak mendapatkan sesuatu yang berharga dari diskusi tadi malam yang bagi kami sangat surprise karena masih banyak yang kersa lenggah dan menunggu sampai acara selesai.terimakasih atas kepedulian, ketulusan dan keiklasannya….salam budaya.
    22 menit yang lalu · Suka ·

  • Doa saking sedulur lawas.. yakin Accapela makin jaya. webnya udah keren..
    hidup mas fredy hidup tim Cangkem.

    Regard
    Gidul

  • Lia:

    Hi pak Pardiman,
    saya mau tanya ada kursus gamelan gak ya buat anak2.
    kebetulan anak saya (11 thn) ingin sekali belajar gamelan.
    thx ya..

  • pardiman:

    terimakasih…Lia
    silahkan datang setiap minggu sore jam 4 di karangjati bangunjiwo bantul…kalau terlalu jauh..cari teman 5 samapai 15 kita siap datang…ada email atau alamat yang bisa dihubungi
    salam..

    • Lia:

      email :emilia1609@yahoo.com

      • Acapella:

        terima kasih….\
        besuk tanggal 26 juni jam 19.00 ada perform gamelan anak di sositet Taman Budaya Yogyakarta, silahkan hadir boleh bawa teman….supaya ada gambaran tentang gamelan anak….. nuwun

  • Mas Tris:

    Implementasi “Srawung, Tepung, Dunung” untuk Pembelajaran Karawitan pada Anak

    Menaggapi tulisan Sdr. Effy Widjono Putro tanggal 23 Juni 2011 yang berjudul “Pardiman Persiapkan Video Pembelajaran Karawitan”, saya selaku peneliti perkembangan gamelan (Jawa) di Amerika Utara (khususnya Canada) menyambut baik atas usaha tersebut. Pembinaan, pendidikan, dan pelestarian terhadap seni budaya local termasuk seni gamelan untuk anak memang sudah seharusnya dibenahi, ditingkatkan, dan ditindak lanjuti tidak saja oleh pelaku seni dan semua unsur terkait, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah: bagaimana implementasi terhadap kegiatan, penerapan, dan kelanjutannya?; sejauh mana sasaran dan tingkat pemasarannya?; seberapa kuat idealisasi dan pendanaannya; dsb.

    Pertanyaan tersebut hanyalah sekedar pancingan yang saya tujukan tidak saja terhadap penggagas ide atas pembuatan video pembelajaran materi karawitan yang diproduksi oleh Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (BTKP) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY, tetapi juga kepada institusi yang lain yang semestinya turut membidani serta mengupayakan kelanjutannya. Mengingat tingkat urgensi, situasi, dan kondisi perkembangan seni karawitan baik di tingkat local, nasional, dan global, maka menurut hemat saya pembuatan video pembelajaran karawitan adalah mutlak diperlukan selain karena hal ini bisa dijadikan sebagai pijakan awal untuk mendapatkan outcome yang lebih maksimal. Yang pasti, dampak positifnya lebih banyak ketimbang negatifnya. Apabila produksi ini ditunjang oleh eksistensi program yang berkesinambungan; dikerjakan oleh insan-insan kreatif yang berwawasan edukatif dan sesuai dengan bidangnya; serta ditindak lanjuti oleh semua pihak terkait; maka akan berdampak sangat positif terhadap keberadaan seni /para pelakunya tidak saja untuk keperluan lokal, tetapi juga nasional dan global. Sekedar diketahui, bahwa saat ini di Amerika Utara saja terdapat lebih dari 115 group yang mengadakan latihan gamelan secara rutin. Belum lagi di Eropa, Australia, dan Asia (tidak termasuk Indonesia) yang jumlahnya lebih dari 200 group, serta kebanyakan Kedutaan/Konsulat Indonesia di Luar Negeri yang rata-rata juga memiliki perangkat gamelan. Namun, menurut data penelitian yang saya dapatkan, belum ada satupun group yang mampu menciptakan acuan yang tepat untuk pembelajaran seni karawitan secara proporsional, educational, dan professional. Guru gamelan yang handal dan professional pun sangat terbatas. Ini merupakan tantangan bagi para pemikir khususnya di bidang ini.

    Konsep dasar yang ‘diungkapkan kembali’ oleh Pardiman selaku penggarap naskah pembuatan video pembelajaran karawitan tersebut, cukup unik dan edukatif serta memperhatikan kronologi pembelajaran seni karawitan untuk anak sesuai dengan tingkat kejiwaannya, yaitu bermula dari tahap awal “srawung”, kemudian meningkat pada tahap pengenalan “tepung”, dan akhirnya tahap pendalaman materi “dunung”. Secara etimology, kata “srawung” sendiri mengandung makna ganda (dalam istilah riset ilmiah di negara barat seperti di Amerika dan Eropa) yaitu bisa dikaitkan dengan istilah “interdisciplinary study” (pembelajaran yang bersifat multidisiplin). Dalam makna yang lebih luas lagi, kata srawung juga mengisyaratkan agar kita mampu ber inter-dan intra-komunikasi dengan mitra, materi, situasi, dan keadaan. Bagaimana seseorang bisa berkomunikasi dengan baik kalau mereka tidak pernah belajar untuk bisa srawung? Bagaimana seseorang akan mengenal barang kalau orang tersebut tidak pernah dididik untuk kenal pada barang tersebut? Kata tepung yang di kategorikan pada tingkatan yang kedua pada teknik pembelajaran ini juga bermakna ganda yaitu: “pengenalan lebih dekat baik secara fisik” maupun “pengenalan secara kejiwaan”, di mana para peserta didik apabila berkesempatan mengalami proses aktualisasi diri secara benar pada tahapan ini, maka mereka akan mampu berinter-dan-intra komunikasi dengan sesama teman, guru, tempat, serta alat. Pada tahapan berikutnya mereka (pada momentum tertentu) akan menemukan pembelajaran jiwa yang saya sebut sebagai solusi ‘ngeh’ (orang Amerika menyebutnya dengan ‘AHA’ solution). Tentu saja untuk bisa menemukan/merasakan solusi ‘ngeh’ atau ‘AHA’ dan mampu mengetahui tingkat keilmuan yang lebih tinggi dari proses pembelajaran ini, kiranya masih akan diperlukan banyak strategi dan pemikiran secara lebih jeli.

    Contoh, untuk bisa menghayati seni yang diangap bersifat adi-luhung (misalnya: batik, lukisan, ukiran, wayang, dll.) ternyata juga diperlukan ilmu pencerna (yaitu ilmu/wawasan seni rupa) yang bisa untuk menganalisa tingkat keadiluhungan seni tersebut. Maka dibukalah sekolah seni rupa yang mengajarkan bagaimana caranya melihat sebuah gambar itu indah, bagaimana membuatnya, motifnya apa, dll. Untuk hal ini, para orang bijak jaman dahulu sering bilang: “golek banyu sangu warih” yang artinya kurang lebih “orang yang mencari air harus juga berbekal air” [Jawa: banyu sama artinya dengan warih, Indonesia: air]. Ada lagi filosofi Jawa yang mengatakan “golek geni sangu grana” yang kalau diartikan secara mudah (Jawa: cara bodho) hanyalah bersifat ekspresi estafet yang artinya “kegiatan mencari api berbekal api” [Jawa: geni sama artinya dengan grana, Indonesia: api]. Namun demikian, pada tingkatan (katakanlah) intelektualitas kejiwaan kejawen, kiranya implementasinya bisa jauh lebih luas ketimbang makna dan jumlah kata-katanya. Contoh kongkrit, kalau saja TKW/TKI Indonesia yang bekerja di Luar Negeri sebelum mereka berangkat ke Negara tujuan sudah dibekali dengan penguasaan bahasa yang cukup, kepandaian/ketrampilan yang memadahi, dan penguasaan permasalah management yang baik, serta penerapan dan pengetahuan hukum/HAM yang layak dan benar, kiranya peristiwa yang dialami almarhumah Ruyati bisa dihindari. Kalau saja semua pejabat pemerintah Indonesia memiliki intelektualitas kejiwaan yang tinggi; menguasai dan mewarisi ilmu peradaban adiluhung yang telah diajarkan oleh para bijak jaman dulu; tentu masalah kesenjangan yang terjadi di sana-sini saat ini bisa diatasi. Namun, rupanya pesan orang-orang bijak jaman dulu sudah banyak dilupakan, sudah dianggap kuno, sudah dianggap tidak relevan dengan jamannya, dan bahkan ada juga yang iseng dengan mengganti kata-kata, seperti misalnya kalimat yang seharusnya berbunyi: “golek banyu sangu warih tetapi kata warih diganti dengan kata uang”, sehingga makna ‘uang’nya yang lebih dominan. Sama halnya dengan “golek geni sangu grana yang juga diganti dengan uang pada kata yang terakhir “grana” sehingga pesan filosofisnya jadi hilang sama sekali. Lebih parah lagi sperti yang sering kita lihat di berita TV, bahwa jaman sekarang banyak orang melakukan “golek uang sangu grana’ yang artinya mencari uang dengan cara membakar. Pada gilirannya pengkultusan terhadap uang semakin menjadi-jadi. Di mana-mana uang menjadi topic dan akhirnya mengarah pada tindakan kriminalitas dan pelanggaran hukum.

    Memang, dilihat dari sekala ekonomi/politik global sejak beberapa dasawarsa terakhir, kebanyakan orang Indonesian beranggapan bahwa uang merupakan ukuran, terbukti semua masalah bisa diselesaikan dan beres kalau ditutup dengan uang. Akan tetapi, fenomena ini telah disanggah oleh para sarjana barat. Dalam teorinya mereka menyatakan bahwa fenomena yang mengesahkan/mendewakan uang sebagai pijakan terpenting pada sebuah pemerintahan, membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat dan penduduk dari Negara tersebut masih akan/belum mau berfikir maju. Inilah antara lain ciri khas situasi negara ketiga, negara yang sedang berkembang, alias Negara yang belum mau/tidak pernah maju. Celakanya, suasana seperti ini disukai oleh negara-negara yang sudah maju (dan juga sering dimanfaatkan oleh orang-orang Indonesia [sebagian kecil] yang sudah merasa maju), karena dengan ketidak-majuan suatu negara [mau tidak mau] berdampak pada masyarakat penduduknya dan juga produk-produknya. Pada level tertentu, mereka [negara maju/orang yang telah maju tersebut] dengan enaknya bisa menerapkan dan memaksakan siasat politik, dagang, dsb dengan sedikit lebih leluasa.

    Andai saja ada kesempatan dan kesadaran bersama yang dibarengi dengan sinergi, kesepahaman, dan kesinambungan program khususnya mengenai pembelajaran karawitan melalui jalur kurikulum baik di tingkat dasar, menengah, dan tinggi di DIY sebagai project percontohan, mungkin nilai plus akan terbentuk di kota budaya ini, atau di kota yang lain yang lebih siap. Dan proses pembelajaran karawitan pada anak dengan mengedepankan pendekatan srawung, tepung, dan dunung bisa menjadi tahapan awal bagi usaha pembinaan, pendidikan, dan pelestarian terhadap seni budaya local termasuk seni gamelan.

    Penulis, Sutrisno Hartana peneliti masalah gamelan Jawa di Amerika Utara (tinggal di Canada), kandidat Ph. D. di University of Victoria, Canada.

  • acapella:

    acapella mataraman kembali mengguncang kota yogyakarta dalam acara pembukaan biennale tanggal 26 Nopember pukul 16.00, bertempat di JNM (jogjakarta Nasional Museum)Jl. Gampingan no 1 Yogyakarta.. monngo rawuh….

  • mas joko lisandono:

    Maju teruuusssss acapella mataramaaaaan…

  • acapella:

    terlalu sering nonton televisi kadang-kadang bosen… dan kangen dengarkan radio… ikuti talk show kebudayaaan ANAK GAMELAN TIDAK KALAH DENGAN ANAK BAND…
    Bersama : Pardiman Djoyonegoro
    tempatdi RRI Pro 4 Nusantara Yogyakarta

  • acapella:

    Talk show kebudayaan
    hari Minggu 25 maret

  • Ario Bekti Irawan:

    Halo pak, masih inget saya??? yang ikut work shop kesenian di Hotel Brongto,,
    kalian kalau latian dimana sih pak + yang sragam ABG juga latihane dimana???

    • acapella:

      halo mas…terimkasih kunjungannya ya…mohon maaf baru bisa balas…latihan acapela di basecamp Studio Omah Cangkem,,,arangjati Bangunjiwa Kasihan bantul,,, Sragam ABG juga di sana…

  • acapella:

    info 21 mei acapella mataraman show di MMTC dengan SMA BODA yogyakarta…

Leave a Reply

“Sinarko”
“Uler Kambang Jenggleng”
NEWS

Parade Gamelan Anak Se-Jawa
Hari Minggu, 20 November 2011 mulai pk. 13.00 WIB di Lap. Realino Univ. Sanata Dharma Yogyakarta. GRATISS!!

Info event Acapella Mataraman klik di sini
Facebook Pardiman Facebook Pardiman Djoyonegoro