History
RIWAYAT ACAPELLA MATARAMAN
Pada dasarnya merupakan karya musik yang mengolah berbagai macam suara yang dihasilkan oleh mulut. Pemahaman kata Acapella mengacu pada bentuk permainan musik atau nyanyian tanpa menggunakan instrument musik (barat). Sedangkan kata Mataraman, selain sebagai wujud identitas baru atas interprestasi acapella itu sendiri (me-lokal-kan), juga merujuk pada permainan komedi gaya Dagelan Mataram yang melahirkan humor-humor segar yang dikenal dengan guyon maton parikeno. Dalam hal ini, pola permainan pada Acapella Mataraman acap kali memancing tawa penonton dengan humor dan canda yang dekat dengan spirit guyonan tersebut.
Selain harmonisasi bermacam-macam melodi yang bersumber pada tembang dan bentuk olah vocal tradisi Nusantara, Acapella Mataraman juga melakukan eksplorasi pada suara-suara non tembang, berupa kata-kata (bermakna atau tidak), maupun bunyi instrumen musik yang ditransformasi ke dalam olah vokal.
Kesemuanya ditata dan digarap dalam koridor sebuah komposisi musik. Pada Acapella Mataraman, semua suara yang keluar dari mulut manusia, disikapi sebagai sumber bunyi yang potensial. Itulah sebabnya, kualitas vokal dalam pengertian suara yang kurang bagus (standar musik konvensional diatonis maupun pentatonik) bisa diolah menjadi materi di dalam konsep Acapella Mataraman. Pemaknaan tersebut di atas, dijadikan sebagai landasan kerja secara terbuka dan akomodatif dalam proses kreatif penggarapan komposisi musik mulut Acapella Mataraman.
Jauh sebelum nama Acapella Mataraman melekat sebagai label, musik mulut Fredy Pardiman terlahir dari sebuah keterpepetan dan keterbatasan. Yaitu alat musik, tempat latihan, pemusik dan uang yang diharapkan mendukung proses bermusik dengan latar belakang musik tradisi. Situasi ini dialami Fredy Pardiman ketika kuliah di Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta pada awal tahun 90-an. Berawal dari adanya permintaan seorang mahasiswa Jurusan Tari untuk membantu menata iringan ujian koreografi, Fredy Pardiman kesulitan untuk mendapatkan pemusik dan tempat latihan musik. Karena banyak mahasiswa tari lain yang juga mempersiapkan ujian yang sama. Sehingga latihan musik pun tidak berjalan seperti yang diharapkan. Buntutnya Fredy Pardiman kebingungan yang berbuah stress.
Dikejar oleh waktu, Fredy Pardiman memutuskan untuk tidak menggunakan gamelan sebagai alat musik dalam garapannya. Tetapi memindahkan suara-suara alat musik gamelan sesuai dengan notasi masing-masing kedalam bentuk permainan vokal. Di luar dugaan permainan gamelan mulut yang dilakukan karena “keterpaksaan” ini ternyata memberikan hasil yang menarik dan memunculkan ide baru dalam penggarapan karya musik. Alhasil, Fredy Pardiman banyak mendapat pujian dan masukan positif yang mendukung dirinya untuk meneruskan musik gamelan mulut.
Penampilan pertama gamelan mulut sebagai sajian musik tunggal datang pada saat Dies Natalis ISI tahun 1992, saat itu Fredy Pardiman berkesempatan mementaskan gamelan mulutnya yang diberi nama gamelan cangkem atau konser conthong. Pada penampilannya Fredy Pardiman mulai memasukkan spirit guyonan khas Jawa (khusus Yogyakarta), yaitu guyon maton parikeno. Hal ini dilakukan untuk lebih mendekatkan pertunjukan musik mulutnya dengan penonton dan upaya untuk mencari identitas atas garapan musik mulutnya. Lewat beberapa lirik lagu yang dimainkan pada acara tersebut yang dikemas dalam komposisi Cangkem Revo : blarak disampirke, omahe creak ra ngapirke, ngetan bali ngulon, kuwi jenenge wong bingung. Dalan sepur dilompati, ajur mumur tak lakoni, merah kuning hijau, itu nama-nama warna. Sambutan positif dari pentas ini mendorong Fredy Pardiman semakin suntuk dan produktif dalam menciptakan komposisi baru. Lahirlah komposisi Trotoar dan Bis Kota yang dipentaskan di TVRI stasiun Yogyakarta. Sampai kemudian melakukan pentas keliling Daerah Tingkat II DIY.
Tahun 1996, Fredy Pardiman meneruskan perjalanan musiknya dalam kelompok musik KUA ETNIKA. Bersama Kua Etnika yang memberikan ruang bagi pengembangan kreatifitas tiap anggotanya Fredy Pardiman berkesempatan lagi menggelar pertunjukan gamelan mulut-nya pada acara Sketsa-Sketsa Bunyi yang diselenggarakan di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta pada bulan Desember 1997. dalam pertunjukan tersebut, gamelan mulut karyanya tampil impresif dan megocok perut penonton dengan menghadirkan “nJeplak Thung-thung” dan “Oral Kambang”. Di dalam pertunjukan ini pula Butet Kertaradjasa sebagai pembawa acara pertunjukan secara spontan di atas panggung memberi label Acapella Mataraman pada permainan musik mulut karya Fredy Pardiman.
Kesuksesan pertunjukan tersebut mengantar Acapella Mataraman tampil di pelbagai tempat acara. Anatara lain pada : “Kali Ini Bukan Orasi” bersama Amien Rais di Purna Budaya, “Temu Musik September” di Solo, Ulang Tahun TVRI, Ulang Tahun Indosiar Konser Kua Etnika “Etno Vaganza” di Teater Tanah Air TMII, Temu Musik September tahun 1999 di Solo juga, peluncuran produk susu SGM di Hotel Sahid Jakarta, Jogja Ngakak Total di Purna Budaya, Festival Gamelan Yogyakarta, Festival Cak Durasim di Surabaya, Java Ha Ha Ha di Java Café Yogyakarta, Teater Utan Kayu Jakarta, dll. Sedangkan kompisisi musik yang diciptakan untuk Acapella Mataraman : Pucung Millenium, Malioboro, Melodi Gangga, Derap Keparat, Meong-meong, Ombak, Sejenak ke Bali Kemudian ke Jawa Lagi, Cangkem Bertaburan, Cokolokomok Suku Nga Fredy-nan, Jalan Jogja Tolak Belok, The Song of Me-liuk-liuk, Flower Reading Four (tembang mocopat).