Terbangan Mentaraman
TERBANGAN “MANTRAM” MENTARAMAN
![]()
Pada tahun 1996 di Purna Budaya Yogyakarta, Heru Handono Wari selaku seksi kesenian dalam acara penerimaan ISO 2000 pabrik susu SGM meminta Pardiman Djoyonegoro untuk mengisi acara kesenian dalam acara tersebut.
Karena acara bertemakan religius maka dipilihlah Sholawatan sebagai materi sajian. Dan pada saat itulah garapan seni sholawat tersebut diberi nama Sholawat Bejut. Di tahun yang sama masih dengan nama Sholawat Bejut, tampil di acara Syawalan di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo. Tahun 1996 hingga tahun 2000 Sholawat Bejut vakum (tertidur panjang).
Baru pada tahun 2001 mulai tampil lagi dalam malam sholawat dan ziarah bunyi yang diselenggarakan oleh Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwa. Pada waktu itu setiap latihan selalu tidak bisa komplit ini disebabkan kesibukan masing-masing pendukung akibat banyak job (laris), maka untuk menandai keberadaan group ini dinamakan Al Laris dan sejak itulah berubah nama menjadi Al Laris, disusul kemudian tahun 2002 berperan serta dalam acara 7 hari meninggalnya Umar Khayam. Dan pada tahun 2003 tampil pada acara Syawalan santriawan dan santriwati Pondok Pesantren Pabelan di rumah Ibu Dewi Rukmini Sagan Kecamatan Tegal Rejo.
Di tahun 2003 atas prakarsa Warjiyo, grup ini dikenalkan ke Yayasan Mandoro Giri Mataram (Ki Muslikun Sandri / Ki Tembong). Dari hasil pembicaraan itu akhirnya Yayasan Mandoro Giri Mataram memberi kesempatan untuk tampil di malam 1 Suro di Parangkusumo, dan untuk acara tersebut kami bertiga Ki Muslikun Sandri, Warijoyo dan Pardiman Djoyonegoro sepakat untuk memberi nama group ini dengan mana Terbangan “Mantram” Mentaraman. Dan untuk memberi aksen gaya mentaraman maka kemudian Ki Muslikun Sandri memberi nama baru untuk Warijoyo menjadi Ki Gede Mentrojiyo dan Pardiman Djoyonegoro menjadi Ki Gede Montrojoyo. Maka di malam tahun baru Muharam ini disikapi sebagai kelahiran Terbangan “Mantram” Mentaraman yang akan berupaya menggali tradisi kidung, mantram, hingga Mocopat dan semua unsur etnik yang ada di Jawa khususnya dan Nusantara pada umumnya.
Karena pada dasarnya kami adalah komunitas anak muda yang mencoba untuk peduli dan menyayangi apa yang sesungguhnya memang milik kami.

![]()
In 1996 at Purna Budaya Yogyakarta, Heru Handono Wari as chief on art section at the SGM milk factory ISO 2000 award asked Pardiman Djoyonegoro to perform on the award. Since the award had religious theme, Sholawatan was chosen as the material to bring onstage. Then the Sholawatan is called Sholawat Bejut. In the same year still under the name Sholawat Bejut, they performed in Syawalan gathering held in Bagong Kussudiarjo Art Village (Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo). But in 1996 until 2000, Sholawat Bejut was hibernated.
Then in 2001, they were back to perform in sholawat night and sounds of pilgrims held by Komunitas Senthong Seni Bangun Jiwa. But whenever they had to rehearse, they could not be in full line up due to the jobs of the members (laris), so to mark out the existence of this group, they agreed to name the group Al Laris. And right after that, the group changed its name into Al Laris. In 2002, the group also took part in commemorating the 7 days of Umar Khayam’s dead. And in the 2003 upon Warjiyo’s initiative, the group was introduced to the Mandoro Giri Mataram Foundation (Ki Muslikun Sandri / Ki Tembong).
From the meeting back then, the Mandoro Giri Mataram Foundation agreed to give the group a chance to perform in 1st Suro Night in Parangkusumo. So to mark our participation on that performance, Ki Muslikun Sandri, Warijoyo and Pardiman Djoyonegoro agreed to change the group into Terbangan “Mantram” Mentaraman.
And to give new accent in mentaraman style, Ki Muslikun then give a new name to Warijoyo and Pardiman Djoyonegoro that are Ki Gede Mentrojiyo and Ki Gede Montrojoyo. So the new Muharam year’s eve, is seen as the birth of Terbangan “Mantram” Mentaraman that will make serious efforts to dig out the traditional ballad (kidung), mantram, mocopat and all the ethnic elements especially within Javanese culture and Nusantara in general.
Because basically, we are youth community that concerns and loves what actually belongs to us.